Rokok Murah Dinilai Marak Beredar di Indonesia

Roosita Meilani, Researcher Center of Human and Development (CHED) Institute of Technology and Business Ahmad Dahlan (ITB-AD) mengatakan prevalensi merokok di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat selama rokok murah masih banyak beredar di masyarakat. Baginya, keberadaan rokok murah mengancam kesehatan masyarakat karena berdampak negatif.

“Banyaknya rokok murah membuat akses ke rokok dan menimbulkan penyakit mahal,” kata Roosita, Jumat (27 Mei) di Jakarta.

Maraknya rokok murah oleh perusahaan Grup 2 juga menjadi masalah serius. Karena tarif cukai rokok golongan 2 yang lebih rendah sekitar 50-60 persen (PMK 192/010/221) dibandingkan golongan 1, khususnya untuk rokok mesin, menyebabkan penyebaran rokok murah semakin meluas.

Hal ini mengancam masa depan generasi muda di Indonesia. Celah cukai terkait batas produksi dimanfaatkan oleh industri rokok untuk membayar cukai yang lebih rendah.

Pria.

Dengan menempatkan produksi pada Kategori 2, industri berpeluang membayar pajak cukai yang lebih rendah meskipun produksinya meningkat. Ujung-ujungnya yang rugi adalah penerimaan pajak negara,” imbuhnya.

Perusahaan melihat pelonggaran batas produksi untuk Grup 2 dari dua miliar batang menjadi tiga miliar batang sebagai strategi bertahap (efek bola salju). Perusahaan yang volumenya lebih dari dua miliar dapat disimpan di grup 2.

Perusahaan yang produksi tiga miliar batang rokoknya harus tetap masuk kategori 1 bisa masuk kategori 2. Hal ini merugikan industri rokok dengan produksi kurang dari 2 miliar batang akibat tekanan dari harga predator.

Senada dengan itu, Iman Mahaputra Zein, Project Lead Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives, mengatakan sangat mudah mengedarkan rokok mesin dengan harga murah.

“Rokok murah jelas merupakan ancaman kesehatan masyarakat karena rokok murah berarti mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, termasuk masyarakat kurang mampu”, .

Dia mengatakan, keberadaan rokok murah juga didorong oleh kondisi sistem cukai saat ini. Secara teoritis, perusahaan dapat menghindari membayar pajak cukai yang lebih tinggi dengan membatasi volume produksi untuk menempatkan mereka dalam kelompok dengan tarif cukai yang lebih rendah.

Hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan batas produksi sigaret kretek mesin yang berubah pada tahun 2017 dari dua miliar batang menjadi tiga miliar batang.

Dengan pembatasan produksi yang lebih longgar ini, perusahaan tidak harus naik ke Tier 1 yang memiliki tarif cukai, tetapi bisa meningkatkan jumlah produksi hingga 1 miliar batang. Batas produksi ini memang memberikan konsesi di mana kewajiban pengendalian harus ditingkatkan, tetapi ini justru sebaliknya,” katanya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.